Khutbah Jum'at tentang Muharam dan makna hijrah menuju ketakwaan.
Muharam menjadi awal perubahan menuju pribadi muslim yang lebih bertakwa.

Khutbah Jum’at: Muharam, Momentum Hijrah Menuju Pribadi yang Lebih Bertakwa

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Khutbah Pertama:

Mukadimah Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Innal-ḥamda lillāh, naḥmaduhu wa nasta’īnuhu wa nastaghfiruh, wa na’ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a’mālinā, man yahdihillāhu falā muḍilla lah, wa man yuḍlil falā hādiya lah, wa asyhadu an lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhū wa rasūluh.

“Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, dan memohon ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan dari keburukan amal-amal kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”


Wasiat Takwa Pertama

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Yā ayyuhalladzīna āmanuttaqullāha ḥaqqa tuqātihī wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan muslim.”

(QS. Ali ‘Imran [3]: 102).


Wasiat Takwa Kedua

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Yā ayyuhan-nāsu ittaqū rabbakumullażī khalaqakum min nafsiw wāḥidah, wa khalaqa minhā zaujahā wa batstsa minhumā rijālan katsīran wa nisā’ā, wattaqullāhalladzī tasā’alūna bihī wal-arḥām, innallāha kāna ‘alaikum raqībā.

“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan pasangannya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”

(QS. An-Nisa [4]: 1).


Wasiat Takwa Ketiga

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

Yā ayyuhalladzīna āmanuttaqullāha wa qūlū qaulan sadīdā. Yuṣliḥ lakum a’mālakum wa yaghfir lakum dzunūbakum, wa man yuṭi’illāha wa rasūlahū faqad fāza fauzan ‘aẓīmā.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah memperoleh kemenangan yang besar.”

(QS. Al-Ahzab [33]: 70-71).


Penegasan untuk Berpegang Teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah

وَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

Wa inna aṣdaqal-ḥadītsi kitābullāh, wa aḥsanal-hadyi hadyu Muḥammadin ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, wa syarral-umūri muḥdatsātuhā, wa kulla muḥdatsatin bid’ah, wa kulla bid’atin ḍalālah, wa kulla ḍalālatin fin-nār.

“Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kitab Allah, petunjuk yang paling baik adalah petunjuk Nabi Muhammad ﷺ, seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.”

(HR. Muslim).


Penutup Mukadimah

أَمَّا بَعْدُ:

أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اِتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى

Ammā ba’du. Ayyuhal-muslimūn, ittaqullāha ta’ālā.

“Amma ba’du. Wahai kaum muslimin, bertakwalah kalian kepada Allah Ta’ala.”


Muharam, Bulan yang Dimuliakan Allah

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,

Kita akan memasuki bulan Muharam, bulan pertama dalam kalender Hijriah. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Inna ‘iddata asy-syuhūri ‘indallāhitsnā ‘asyara syahran fī kitābillāhi yauma khalaqas-samāwāti wal-ardha minhā arba’atun hurum, dzālika ad-dīn al-qayyim falā tazhlimū fīhinna anfusakum.

“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan yang dimuliakan. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu pada bulan-bulan itu.”

(QS. At-Taubah [9]: 36).

Ayat ini mengingatkan kita agar lebih berhati-hati dalam menjaga amal dan menjauhi dosa. Sebab, kemuliaan waktu hendaknya diisi dengan ketaatan kepada Allah.

Makna Hijrah yang Sesungguhnya

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,

Ketika kita berbicara tentang Muharam, banyak orang teringat pada peristiwa hijrah Rasulullah ﷺ. Hijrah bukan hanya perpindahan tempat, tetapi juga perpindahan dari keburukan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju ketaatan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Wal-muhājiru man hajara mā nahallāhu ‘anhu.

“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.”

(HR. Al-Bukhari).

Maka, setiap muslim memiliki kesempatan untuk berhijrah:

  • Hijrah dari meninggalkan shalat menuju menjaga shalat.
  • Hijrah dari dusta menuju kejujuran.
  • Hijrah dari permusuhan menuju persaudaraan.
  • Hijrah dari maksiat menuju taubat.

Muhasabah di Awal Tahun Hijriah

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,

Pergantian tahun Hijriah hendaknya menjadi momentum muhasabah. Sudahkah kita menjadi hamba yang lebih baik? Sudahkah kita berbakti kepada orang tua, menjaga amanah, memperbaiki akhlak, dan memperbanyak amal saleh?

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Yā ayyuhalladzīna āmanuttaqullāha waltanzhur nafsun mā qaddamat lighad, wattaqullāh, innallāha khabīrun bimā ta’malūn.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(QS. Al-Hasyr [59]: 18).

Marilah kita menjadikan Muharam sebagai awal perubahan menuju pribadi yang lebih bertakwa dan lebih bermanfaat bagi sesama.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Aqūlu qawlī hādzā wa astaghfirullāhal-‘aẓīma lī wa lakum, fastaghfirūhu innahū huwal-ghafūrur-raḥīm.

“Aku mencukupkan perkataanku ini, dan aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung untuk diriku dan untuk kalian. Maka mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Khutbah Kedua:

Mukadimah Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَعْوَانِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا

Alhamdu lillāhi ‘alā iḥsānih, wasy-syukru lahū ‘alā taufīqihī wamtīnānīh, wa asyhadu an lā ilāha illallāhu ta’ẓīman lisya’nih, wa asyhadu anna nabiyyanā Muḥammadan ‘abduhū wa rasūluhud-dā’ī ilā riḍwānih, shallallāhu ‘alaihi wa ‘alā ālihī wa aṣḥābihī wa a’wānih, wa sallama taslīman katsīrā.

“Segala puji bagi Allah atas segala kebaikan dan karunia-Nya. Segala syukur hanya bagi-Nya atas taufik dan limpahan nikmat-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, sebagai bentuk pengagungan terhadap keagungan-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang mengajak manusia menuju keridaan-Nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam yang berlimpah kepada beliau, kepada keluarganya, para sahabatnya, serta para penolong dan pengikutnya.


Penutup Mukadimah

أَمَّا بَعْدُ

أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اِتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى

Ammā ba’du.

Ayyuhal-muslimūn, ittaqullāha ta’ālā.

Amma ba’du.

Wahai kaum muslimin, bertakwalah kalian kepada Allah Ta’ala.”


Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,

Marilah kita memperbanyak amal saleh di bulan Muharam. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

Afdhalush-shiyāmi ba’da Ramadhāna syahrullāhil Muharram.

“Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharam.”

(HR. Muslim).

Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita untuk memperbaiki diri, menjaga keluarga, mempererat ukhuwah Islamiyah, dan mengisi tahun Hijriah ini dengan amal yang diridhai-Nya.


Shalawat dan Doa untuk Khulafaur Rasyidin

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْأَئِمَّةِ الْمَهْدِيِّينَ: أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ، وَعَنِ التَّابِعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ، يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.

Allāhumma shalli ‘alā Muḥammadin wa ‘alā āli Muḥammad, kamā shallaita ‘alā Ibrāhīma wa ‘alā āli Ibrāhīm, innaka Ḥamīdun Majīd. Wa bārik ‘alā Muḥammadin wa ‘alā āli Muḥammad, kamā bārakta ‘alā Ibrāhīma wa ‘alā āli Ibrāhīm, innaka Ḥamīdun Majīd.

Warḍallāhumma ‘anil-khulafā’ir-rāsyidīnal-a’immatil-mahdiyyīn: Abī Bakrin, wa ‘Umar, wa ‘Utsmān, wa ‘Aliyy, warḍallāhumma ‘aniṣ-ṣaḥābati ajma’īn, wa ‘anit-tābi’īn, wa man tabi’ahum bi iḥsānin ilā yaumid-dīn, wa ‘annā ma’ahum bimannika wa karamika wa iḥsānika, yā Akramal-Akramīn.

“Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Dan limpahkanlah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Ya Allah, ridhailah para Khulafaur Rasyidin, para pemimpin yang mendapat petunjuk, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Ridhailah pula seluruh sahabat Nabi, para tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan hingga Hari Kiamat. Dan jadikanlah kami termasuk bersama mereka dengan anugerah, kemuliaan, dan karunia-Mu, wahai Dzat Yang Maha Mulia di atas segala yang mulia.”


Doa untuk Kemuliaan Islam dan Kaum Muslimin

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ

اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِينَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

اَللَّهُمَّ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُؤْمِنِينَ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

اَللَّهُمَّ وَعَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ الدِّينِ، فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُونَكَ

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُورِهِمْ، وَنَعُوذُ بِكَ، اللَّهُمَّ، مِنْ شُرُورِهِمْ

Allāhumma a’izzal-islāma wal-muslimīn, wa adzillasy-syirka wal-musyrikīn, wa dammir a’dā’ad-dīn.

Allāhummanṣur man naṣara dīnaka wa kitābaka wa sunnata nabiyyika Muḥammadin ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.

Allāhumma wanṣur ‘ibādakal-mu’minīn, yā Dzal-Jalāli wal-Ikrām.

Allāhumma wa ‘alaika bi-a’dā’id-dīn, fa innahum lā yu’jizūnak.

Allāhumma innā naj’aluka fī nuḥūrihim, wa na’ūdzu bika, Allāhumma, min syurūrihim.

“Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin, hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik, serta hancurkanlah musuh-musuh agama.

Ya Allah, tolonglah orang-orang yang menolong agama-Mu, Kitab-Mu, dan sunnah Nabi-Mu Muhammad ﷺ.

Ya Allah, tolonglah hamba-hamba-Mu yang beriman, wahai Dzat Yang Maha Memiliki Keagungan dan Kemuliaan.

Ya Allah, hadapilah musuh-musuh agama, karena sesungguhnya mereka tidak akan mampu melemahkan kekuasaan-Mu.

Ya Allah, kami menyerahkan urusan mereka kepada-Mu dan kami berlindung kepada-Mu dari segala keburukan mereka.”


Doa untuk Para Pemimpin dan Penguasa Kaum Muslimin

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْهُمْ هُدَاةً مُهْتَدِينَ.

اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَأَعِنْهُ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى، وَسَدِّدْهُ فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ، وَارْزُقْهُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ.

اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيعَ وُلَاةِ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ، وَاتِّبَاعِ سُنَّةِ نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Allāhumma aṣliḥ wulāta umūrinā, waj’alhum hudātan muhtadīn.

Allāhumma waffiq waliyya amrinā limā tuḥibbu wa tarḍā, wa a’inhu ‘alal-birri wat-taqwā, wa saddidhu fī aqwālihī wa a’mālihī, warzuqhul-biṭānataṣ-ṣāliḥatan nāṣiḥah.

Allāhumma waffiq jamī’a wulāti amril-muslimīna lil-‘amali bikitābika, wattibā’i sunnati nabiyyika ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.

“Ya Allah, perbaikilah para pemimpin urusan kami dan jadikanlah mereka pemimpin yang memberi petunjuk serta memperoleh petunjuk.

Ya Allah, berilah taufik kepada pemimpin kami untuk melakukan apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Bantulah dia dalam menjalankan kebajikan dan ketakwaan, luruskanlah ucapan dan perbuatannya, serta karuniakan kepadanya para pembantu dan penasihat yang saleh dan tulus.

Ya Allah, berilah taufik kepada seluruh pemimpin kaum muslimin agar dapat mengamalkan Kitab-Mu dan mengikuti sunnah Nabi-Mu Muhammad ﷺ.”


Doa Memohon Perlindungan dari Fitnah dan Kerusakan Akhlak

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْغَلَاءِ، وَمِنَ الْبَلَاءِ، وَمِنَ الْفِتَنِ، وَمِنَ الْمِحَنِ، كُلِّهَا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً، وَسَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ، وَالْأَهْوَاءِ، وَالْأَدْوَاءِ

اَللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ

اَللَّهُمَّ اهْدِنَا وَسَدِّدْنَا

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعِفَّةَ وَالْغِنَى

Allāhumma innā na’ūdzu bika minal-ghalā’, wa minal-balā’, wa minal-fitan, wa minal-miḥan, kullihā mā ẓahara minhā wa mā baṭan, ‘an baladinā hādzā khāṣṣatan, wa sā’iri bilādil-muslimīna ‘āmmatan, yā Dzal-Jalāli wal-Ikrām.

Allāhumma innā na’ūdzu bika min munkarātil-akhlāq, wal-ahwā’, wal-adwā’.

Allāhummah-dinā li-aḥsanil-akhlāq, lā yahdī li-aḥsani hā illā anta, waṣrif ‘annā sayyi’ahā, lā yaṣrifu ‘annā sayyi’ahā illā anta.

Allāhummah-dinā wa saddidnā.

Allāhumma innā nas’alukal-hudā, wat-tuqā, wal-‘afāfa, wal-ghinā.

“Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari mahalnya harga-harga, dari berbagai bencana, dari segala fitnah, dan dari berbagai ujian, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Jauhkanlah semua itu dari negeri kami ini secara khusus dan dari seluruh negeri kaum muslimin secara umum, wahai Dzat Yang Maha Memiliki Keagungan dan Kemuliaan.

Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari akhlak yang buruk, hawa nafsu yang menyimpang, dan berbagai penyakit.

Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang paling mulia, karena tidak ada yang dapat menunjuki kepada akhlak yang terbaik selain Engkau. Dan jauhkanlah kami dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkan kami darinya selain Engkau.

Ya Allah, berilah kami petunjuk dan luruskanlah langkah kami.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian diri, dan kecukupan.”


Doa Memohon Ampunan untuk Diri, Orang Tua, dan Kaum Muslimin

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا، وَلِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا مَا قَدَّمْنَا وَمَا أَخَّرْنَا، وَمَا أَسْرَرْنَا وَمَا أَعْلَنَّا، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

Allāhummaghfir lanā wa liwālidaynā, walil-muslimīna wal-muslimāt, wal-mu’minīna wal-mu’mināt, al-aḥyā’i minhum wal-amwāt.

Allāhummaghfir lanā mā qaddamnā wa mā akhkharnā, wa mā asrarnā wa mā a’lannā, wa mā anta a’lamu bihī minnā, antal-muqaddimu wa antal-mu’akhkhiru, wa anta ‘alā kulli syai’in qadīr.

“Ya Allah, ampunilah kami, kedua orang tua kami, kaum muslimin dan muslimat, kaum mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu dan yang akan datang, yang kami sembunyikan maupun yang kami tampakkan, dan segala sesuatu yang Engkau lebih mengetahuinya daripada kami. Engkaulah Yang Maha Mendahulukan dan Yang Maha Mengakhirkan, dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”


Penutup Doa Khutbah Jum’at

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ وَأَنْعَمَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Wa ākhiru da’wānā anil-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn, wa shallallāhu wa sallama wa bāraka wa an’ama ‘alā ‘abdihī wa rasūlihī nabiyyinā Muḥammadin, wa ‘alā ālihī wa ṣaḥbihī ajma’īn.

“Dan akhir doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Semoga Allah melimpahkan shalawat, salam, keberkahan, dan segala karunia kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, serta kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau.”


Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


أَقِيمُوا الصَّلَاةَ، يَرْحَمْكُمُ اللَّهُ

Aqīmūṣ-ṣalāh, yarḥamkumullāh

“Dirikanlah shalat, semoga Allah merahmati kalian.”


Kesimpulan

Bulan Muharam adalah momentum untuk berhijrah menuju pribadi yang lebih bertakwa, memperbanyak amal saleh, dan melakukan muhasabah agar kehidupan dunia dan akhirat menjadi lebih baik.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *