Pendahuluan
Dalam pandangan Islam, ilmu merupakan cahaya yang menerangi hati dan membimbing manusia menuju jalan yang benar. Namun, para ulama sejak dahulu mengingatkan bahwa keberkahan ilmu tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pengetahuan yang dimiliki, tetapi juga oleh adab dalam mencarinya.
Ada orang yang menguasai banyak ilmu, tetapi ilmunya tidak membawa ketenangan. Ada pula yang memiliki pengetahuan sederhana, namun ilmunya memberi manfaat luas bagi keluarga dan masyarakat. Salah satu pembeda di antara keduanya adalah adab.
Dalam tradisi Islam, terutama dalam pengajian dan pengijazahan ilmu, adab sering kali didahulukan sebelum materi pelajaran. Sebab, hati yang bersih dan sikap yang baik menjadi wadah yang layak untuk menerima hikmah dari Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā.
Kedudukan Ilmu dalam Islam
Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Yarfa’illāhul lażīna āmanū minkum wallażīna ūtul-‘ilma darajāt.
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah ayat 11).
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu adalah kemuliaan. Namun, kemuliaan tersebut berjalan seiring dengan keimanan dan akhlak yang baik.
Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wassallam juga bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Man salaka tharīqan yaltamisu fīhi ‘ilman sahhalallāhu lahu bihi tharīqan ilal jannah.
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim).
Hadis ini termasuk hadis yang masyhur dan banyak dijadikan motivasi bagi para penuntut ilmu.
Mengapa Adab Didahulukan Sebelum Ilmu?
Para ulama salaf memiliki perhatian besar terhadap adab. Diriwayatkan bahwa sebagian mereka berkata:
“Kami mempelajari adab selama bertahun-tahun sebelum mempelajari banyak ilmu.”
Ungkapan ini menunjukkan bahwa ilmu tanpa adab dapat menimbulkan kesombongan, perdebatan yang tidak bermanfaat, bahkan penyalahgunaan pengetahuan.
Dalam Pengijazahan Ilmu Al-Hikmah, adab menjadi fondasi agar ilmu digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā, membantu sesama, dan menjaga kemaslahatan umat.
Adab Menuntut Ilmu yang Perlu Dijaga
1. Meluruskan Niat
Niat adalah awal dari segala amal. Menuntut ilmu hendaknya diniatkan untuk mencari ridha Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā, bukan semata-mata untuk popularitas, kedudukan, atau keuntungan duniawi.
Semakin lurus niat seseorang, semakin besar harapan bahwa ilmunya menjadi ilmu yang bermanfaat.
2. Memohon Pertolongan kepada Allah
Ilmu adalah karunia Allah. Karena itu, seorang penuntut ilmu hendaknya memperbanyak doa.
Salah satu doa yang dianjurkan adalah:
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Rabbi zidnī ‘ilmā.
“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”
(QS. Thaha ayat 114).
3. Menghormati Guru
Dalam tradisi Islam, menghormati guru merupakan bagian penting dari keberhasilan belajar.
Menghormati guru bukan berarti mengkultuskan manusia, tetapi menghargai perantara ilmu yang Allah hadirkan.
Bentuk penghormatan antara lain:
- Mendengarkan dengan baik.
- Tidak memotong pembicaraan.
- Bersikap santun.
- Mendoakan kebaikan guru.
- Mengamalkan ilmu yang diajarkan.
4. Menghormati Sesama Penuntut Ilmu
Majelis ilmu adalah tempat tumbuhnya ukhuwah. Menghindari sikap meremehkan orang lain dan saling membantu dalam kebaikan merupakan adab yang luhur.
5. Bersabar dalam Proses Belajar
Tidak ada ilmu yang diperoleh secara instan. Para ulama menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk belajar, menghafal, dan mengamalkan ilmu.
Kesabaran akan melahirkan kedalaman pemahaman dan kematangan akhlak.
6. Mengamalkan Ilmu
Ilmu yang tidak diamalkan dikhawatirkan menjadi hujjah atas pemiliknya.
Oleh karena itu, setiap pengetahuan yang diperoleh hendaknya diikuti dengan upaya mengamalkannya sesuai kemampuan.
Adab Khusus dalam Pengijazahan Ilmu Al-Hikmah
Dalam tradisi pengijazahan ilmu yang berkembang di kalangan ulama dan pesantren, terdapat beberapa adab yang patut dijaga, antara lain:
1. Menjaga Keikhlasan
Ilmu hikmah bukanlah sarana untuk menyombongkan diri, melainkan jalan memperbaiki hati dan meningkatkan ibadah.
2. Menjaga Akhlak dan Ibadah
Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar tuntutan untuk menjaga shalat, kejujuran, amanah, dan akhlak mulia.
3. Tidak Menggunakan Ilmu untuk Keburukan
Segala bentuk pengetahuan hendaknya digunakan untuk kemanfaatan dan tidak merugikan orang lain.
4. Menghormati Perbedaan Pendapat
Dalam beberapa persoalan, para ulama memiliki pandangan yang beragam. Sikap bijaksana adalah menghormati perbedaan tersebut dengan tetap menjaga ukhuwah Islamiyah.
Tanda-Tanda Ilmu yang Berkah
Ilmu yang berkah biasanya melahirkan beberapa karakter berikut:
- Menambah ketakwaan kepada Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā.
- Membentuk akhlak yang lebih baik.
- Membawa manfaat bagi keluarga dan masyarakat.
- Menumbuhkan sifat rendah hati.
- Menjauhkan diri dari kesombongan.
- Menjadi sebab lahirnya amal saleh.
Sebaliknya, jika ilmu justru melahirkan permusuhan, kebencian, dan kesombongan, maka seorang penuntut ilmu perlu melakukan muhasabah.
Tantangan Penuntut Ilmu di Era Digital
Kemajuan teknologi memberikan kemudahan dalam mengakses pengetahuan. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan.
Seorang muslim hendaknya:
- Memastikan sumber ilmu yang dipelajari dapat dipercaya.
- Tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas.
- Menjaga adab dalam berdiskusi di media sosial.
- Mengutamakan ilmu yang membawa manfaat.
Teknologi adalah sarana. Adab tetap menjadi penuntun agar sarana tersebut digunakan dengan baik.
Menjadikan Ilmu Sebagai Jalan Mendekat kepada Allah
Hakikat ilmu dalam Islam adalah mengenal kebesaran Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā dan memperbaiki diri.
Semakin bertambah ilmu, semestinya semakin tumbuh rasa syukur, kerendahan hati, dan kepedulian kepada sesama.
Dengan demikian, ilmu bukan hanya memenuhi akal, tetapi juga menerangi hati.
Penutup
Adab menuntut ilmu merupakan fondasi utama dalam memperoleh ilmu yang berkah. Keikhlasan niat, penghormatan kepada guru, kesabaran, pengamalan ilmu, dan akhlak yang mulia adalah kunci agar ilmu membawa manfaat di dunia dan akhirat.
Dalam Pengijazahan Ilmu Al-Hikmah, adab bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari perjalanan spiritual menuju kedekatan kepada Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā. Semoga setiap langkah kita dalam mencari ilmu menjadi amal saleh yang diridhai-Nya.

